Kamis, 24 Juni 2021

Bara Emosi

sempit dan tercekit

semua bergemuruh 

membara dalam kelam


gemuruh tak kunjung usai

malah tersulut api emosi 

kalbu pun mulai terbakar


raga tak sanggup bergerak

mulut tak sudi berbicara

hati yang menjerit kencang


Tak sanggup lagi memendam 

Melepas pun tak mampu

Entah sampai kapan

Amarah ini terus membara

Sabtu, 12 Juni 2021

Malam Semesta

Hiruk pikuk angin berhembus 

Menunjuk siluet di balik awan

Penghuni langit bersorak sorai

Sunyinya bumi menjadi saksi


Tirai panggung mulai terbuka 

Disambut tarian kerlip bintang

Seluruh semesta bungkam terbuai

Pada eloknya aksi panggung sang bulan


26 Mei 2021

Jumat, 28 Mei 2021

Burung Kecil

Burung kecil itu selalu nyaman berada di atas awan

Awan-awan tak pernah lelah mengawasinya siang dan malam


Senyum selalu menghiasi wajahnya ketika melihat teman-temannya terbang jauh

Tentu ia sangat ingin pergi ke bulan --tempat yang ia damba-dambakan-- seperti teman-temannya


"Lalu kenapa tidak pergi? kau sudah cukup dewasa untuk terbang jauh" tanya awan

"Aku sangat ingin, namun.." ia menatap bulan -- yang terpaut dekat dengan hatinya namun terasa begitu jauh dari pandangannya -- seraya tersenyum

"Aku hanya ragu apakah kedua sayapku bisa terbang seperti sedia kala, saat aku belum mengenal sakitnya jatuh dan kehilangan?" burung kecil itu menatap luka yang telah mengering pada sayapnya

Mawar Putih II

Di tepi taman

Mawar putih terlihat merekah kemarin malam

Hari ini ia menggugurkan kelopaknya

Satu demi satu 

Sampai habis sama sekali


Bukan lagi mawar

Tanpa nama


Ia mengaku hanya seonggok batang berduri

Yang bisa menyakiti tangan siapa saja

Yang mencoba memetiknya

Rabu, 26 Mei 2021

[Resensi Buku] Lukisan Hujan (Edisi Baru) - Sitta Karina


Judul: Lukisan Hujan

Penulis: Sitta Karina

Penerbit: Literati

Jumlah halaman: 546 halaman

Tahun terbit: 2015 


Lukisan Hujan adalah novel karangan Sitta Karina pertama yang saya baca. Cerita sedikit, awalnya, adik saya yang ngeracunin buat baca ini, dia sampe cerita berkali-kali adegan seru di novel keluarga Hanafiah. Saya waktu itu belum tertarik lagi untuk baca novel, apalagi saya bukan penggemar cerita romance. Sampai akhirnya ada momen dimana saya tiba-tiba tertarik untuk membuat cerita fiksi, dan mengharuskan explore novel buat dapetin diksi baru. Berhubung saya suka cerita yang karakternya banyak dan adik saya terus bujuk-bujuk buat baca novel ini, jadilah saya putuskan untuk mulai baca. Setelah sekian tahun gak baca novel, akhirnya saya mulai baca novel lagi deh. 

Waktu denger alur ceritanya, saya pikir bakal seperti novel-novel romansa picisan anak SMA, karena tokoh utama perempuannya anak SMA. Benar, memang banyak adegan-adegan romantis yang (menurut saya) agak berlebihan, apalagi waktu tokoh utamanya berantem cuma karena hal kecil. Tapi gak sepenuhnya begitu kok, plot ceritanya masih bisa dinikmati.

Karena terlanjur suka sama buku pertama, jadi saya mau review sedikit tentang isi novelnya (insyaallah gak ada spoiler). Tapi mohon maaf kalau penataan kata yang kurang rapi ya, maklum masih pemula hehe..


Sinopsis:

Lukisan Hujan bercerita tentang Diaz Hanafiah, laki-laki keturunan Indonesia-Meksiko yang terkenal dingin, jutek dan galak, yang tinggal di sebuah komplek perumahan Bintaro Lakeside. Selain berkumpul bersama sepupu-sepupunya, Diaz memiliki hobi main basket bersama teman-teman kompleksnya. Walaupun terlahir dari keluarga konglomerat, keluarga Diaz memiliki gaya hidup yang sederhana dibandingkan dengan keluarga Hanafiah lainnya. Oleh karena itu, Diaz sering dibandingkan dengan sepupu-sepupu Hanafiah lainnya yang berpenampilan parlente dan bergelimang mobil sport mahal, serta brand fashion terkenal, terutama di lingkaran anak-anak sosialita.

Suatu hari, ada tetangga baru yang baru pindah ke sebelah rumah Diaz, keluarganya memiliki anak perempuan bernama Sisy yang disebut-sebut sebagai bidadari oleh teman-teman kompleknya. Sisy adalah perempuan mungil, cantik, dan bersekolah di SMA Nasional High School. 

Takdir mempertemukan Diaz dan Sisy ketika sedang turun hujan, di depan komplek Bintaro Lakeside. Semenjak pertemuan itu, kisah Diaz dan Sisy dimulai. Karena kondisi Diaz yang baru saja putus dari Anggi, mantan pacarnya, Diaz meresmikan hubungannya dengan Sisy sebagai abang-adik. Sisy menikmati waktunya bersama Diaz, terutama ketika Diaz membantu mengerjakan PR sekolahnya, begitupun Diaz yang sangat senang bisa dekat dengan Sisy karena sifat Sisy yang apa adanya dan menenangkan, membuat hati Diaz lunak. Karena sering menghabiskan waktu bersama, tanpa disadari Diaz dan Sisy mulai memendam perasaan di hati masing-masing, perasaan yang lebih dari sekedar abang dan adik. 

Perjalanan cinta mereka tidak semulus yang dibayangkan, kedatangan mantan Diaz dan dirinya yang tidak bisa lepas dari kehidupan sosialita keluarganya, membuat Sisy minder dan maju-mundur dengan perasaannya. Di samping itu Igo, yang tidak lain adalah sahabat Diaz juga terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Sisy. Namun, lika-liku yang dihadapi Diaz dan Sisy justru membuat hubungan mereka semakin kuat.


Oke, sinopsisnya sampe sini aja ya.

Yang saya suka dari novel ini, ceritanya gak cuma didominasi sama kisahnya Diaz dan Sisy, tapi banyak juga cerita tentang sepupu-sepupu Hanafiah, temen-temen kompleksnya Diaz, dan bahkan cewe-cewe sosialita yang sering berseliwiran di kehidupan keluarga Hanafiah. Jadi gak ngebosenin, tapi gak enaknya bikin penasaran, karena ada beberapa adegan yang kesannya penting tapi gak diceritain secara detail (karena cerita detailnya ada di novel keluarga Hanafiah yang lain). Mbak Sitta Karina juga jago banget menggambarkan karakter-karakter tiap tokohnya. Tokoh yang menurut kita gak penting sekalipun juga bisa tetep hidup.

Selain itu, novel ini juga ngasih wawasan baru. Karena keturunan Spanyol dan keluarga jet set yang sering pergi bolak-balik luar negeri, banyak dialog antara Diaz dan kerabat-kerabatnya yang menggunakan bahasa Spanyol dan Inggris. Sama halnya juga Sisy sama teman-teman sekolahnya. Ditambah lagi nama-nama brand fashion yang asing di telinga (saya), gak cuma Gucci dan Channel.

Waktu baca novel ini, di pertengahan sempet boring, jadi sempet saya anggurin berhari-hari. Relatif ya, soalnya saya baca ini di umur 25, jadi udah lewat masa percintaan unyu-unyu ala Diaz dan Sisy, dan lagi saya basically kurang suka cerita romance hehe. Ada satu hal yang bikin saya gemes, waktu Diaz gak mau jujur sama perasaannya sendiri, munafiknya terlalu keliatan wkwk. 

Tapi setelah baca klimaksnya, saya malah gak bisa berhenti baca dan setelah selesai baca, jadi penasaran sama novel serial Hanafiah lainnya.

Saran saya sih pas baca ini harus siap-siap penasaran dan (untuk yang bukan dari kalangan sosialita) jangan kaget liat dialog antar anak-anak konglomerat yang bikin geleng kepala haha.

Satu lagi yang bikin seru, ada beberapa adegan action yang bikin ceritanya mewah dan gak monoton. Nggak tau kenapa sempet kepikiran juga, kayanya novel ini layak buat go internasional. Ya, kita doakan aja ya semoga mbak Sitta Karina sehat selalu, biar bisa bikin karya yang lebih kece lagi >.<

Kurang lebih itu yang bisa saya share. Meskipun tebel, novel Lukisan Hujan worth it untuk dibaca. Apalagi untuk yang suka baca cerita romance dan seneng sama plot cerita gaya hidup anak-anak socialite, mungkin bakal suka baca ini.

Kamis, 22 April 2021

Overthinking

Mereka datang lagi

Selalu bebondong-bondong

Diikatnya kakiku

Tanganku

Membawaku pergi menjauh

Dari masa kini

 

Ragaku di sini

Namun jiwaku jauh

Mereka berputar

Melewati susunan memori

Merusak batas-batas kewarasan

 

Aku mencoba menarik diriku menjauh

Namun jiwaku terlanjur terjatuh

Ragaku perlahan tenggelam

Semakin dalam

Semakin kelam

Sampai tidak setitik cahayapun terlihat

Aku tenggelam dalam kegelapan


Kamis, 08 April 2021

Mawar Putih I

                                                    

Sesuatu tidak selamanya seperti apa yang selama ini terlihat...


Saat matahari mulai tenggelam di kaki langit

Rona merah angkasa digantikan hitam kelam

Serupa dengan mawar putih di sebrang, 

yang lambat laun putihnya terhapus oleh gelap malam



Memori Sekuntum Bunga

Aku tidak pernah ingat

Kapan pertama kali aku mekar

Kupu-kupu berbisik padaku, 

"Dia yang memperjuangkanmu" ia menunjuk sosok cahaya di atasku


Sinarnya tak pernah berhenti mewarnaiku

Menjadikan aku primadona di antara bunga-bunga


Sampai suatu senja, jingga menyapaku tergesa-gesa

Ternyata langit membawa kelam dan hitam

Barisan bintang hadir dipimpin sang bulan

Matahari telah pergi tanpa kata pamit


Lambat laun kelopakku layu ditempa hampa

Gelap malam perlahan menghapus warnaku

Aku tersedu-sedu memecah sunyi, "Aku rindu matahari"


Langit mendengar tangisku 

Disingsingkannya awan, kemudian turun rintik hujan

Airnya menyerap ke seluruhku, menyuratkan sebuah pesan,

"Matahari membawa wasiat rindu untukmu"


Dengan mekar yang kembali merekah, aku bercermin pada genangan air sisa hujan,

"Apakah warnaku tetap sama tanpa kehadirannya?"

"Akankah aku bisa mekar seperti sedia kala, saat matahari masih ada?"


2 April 2021

Kepergian Bintang

Malam menghela napas seraya bulan mendendangkan sepi

"Kemana gerangan para bintang?" Awan murung kehilangan sirnanya

Lambat laun langit menitikkan tetes gulananya, mencari bintang yang tak kunjung pulang

Angin bersaksi pada malam,

"Bintang-bintang sedang menjadi titik rindu di ujung mata perempuan yang sedang memohon cinta-Nya"


16 Maret 2021, 23.46 WIB