Kamis, 08 April 2021

Memori Sekuntum Bunga

Aku tidak pernah ingat

Kapan pertama kali aku mekar

Kupu-kupu berbisik padaku, 

"Dia yang memperjuangkanmu" ia menunjuk sosok cahaya di atasku


Sinarnya tak pernah berhenti mewarnaiku

Menjadikan aku primadona di antara bunga-bunga


Sampai suatu senja, jingga menyapaku tergesa-gesa

Ternyata langit membawa kelam dan hitam

Barisan bintang hadir dipimpin sang bulan

Matahari telah pergi tanpa kata pamit


Lambat laun kelopakku layu ditempa hampa

Gelap malam perlahan menghapus warnaku

Aku tersedu-sedu memecah sunyi, "Aku rindu matahari"


Langit mendengar tangisku 

Disingsingkannya awan, kemudian turun rintik hujan

Airnya menyerap ke seluruhku, menyuratkan sebuah pesan,

"Matahari membawa wasiat rindu untukmu"


Dengan mekar yang kembali merekah, aku bercermin pada genangan air sisa hujan,

"Apakah warnaku tetap sama tanpa kehadirannya?"

"Akankah aku bisa mekar seperti sedia kala, saat matahari masih ada?"


2 April 2021

2 komentar: